Oleh : DR PURWANTO
Penulis di besarkan di Gunungkidul yang bersentuan langsung dengan bidang pertanian dan saat ini merantau dan berdomisili di Jakarta.
Gunungkidul sejak lama dilekatkan pada citra klasik : tanah berbatu, tandus, dan krisis air. Narasi itu begitu kuat hingga membentuk cara pandang kolektif, bahwa wilayah ini memang “ditakdirkan” sulit untuk bertani secara optimal.
Namun, waktu membuktikan bahwa asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar.
Di balik bentang alam karst yang keras, tersimpan potensi besar berupa sungai-sungai bawah tanah. Di sejumlah wilayah seperti Semanu, aliran air berada pada kedalaman 75 hingga 150 meter dari permukaan. Ini bukan sekadar fenomena geologis, melainkan cadangan sumber daya yang selama puluhan tahun tidak tersentuh secara maksimal.
Perkembangan teknologi, ditopang intervensi pemerintah dan tenaga ahli, perlahan mengubah keadaan. Air yang dulu tersembunyi kini berhasil diangkat ke permukaan dan dialirkan ke rumah-rumah warga melalui sistem pengelolaan air daerah.
Kehadiran layanan air bersih ini jelas menjadi lompatan besar. Kebutuhan dasar masyarakat : minum, mandi, mencuci, mulai terpenuhi. Namun, satu persoalan mendasar belum tersentuh secara serius : pemanfaatan air untuk sektor pertanian.
Di saat yang sama, ironi lain muncul.
Lahan-lahan pertanian produktif justru mengalami alih fungsi. Banyak petani beralih menanam pohon jati, dengan harapan nilai ekonomi yang lebih tinggi di masa depan. Pada satu titik, pilihan ini tampak rasional.
Sayangnya, realitas pasar berubah.
Kayu jati yang dulu menjadi primadona kini menghadapi tekanan dari berbagai material substitusi yang lebih murah, lebih praktis, dan sering kali lebih tahan lama. Akibatnya, nilai ekonomis jati tidak lagi sekuat yang dibayangkan. Lahan produktif yang seharusnya menghasilkan pangan justru terjebak dalam siklus investasi yang stagnan.
Baca Juga : Jejak Penyelidikan yang Menggantung : Kasus Pemotongan Jasa Pelayanan RSUD Wonosari
Di sinilah persoalan struktural Gunungkidul semakin kompleks.
Di satu sisi, potensi sumber daya alam mulai terbuka. Di sisi lain, sektor pertanian justru melemah. Dan di atas semua itu, terjadi fenomena yang lebih mengkhawatirkan : hengkangnya tenaga kerja produktif.
Setiap tahun, lulusan sekolah, baik kejuruan maupun umum, terus bertambah. Namun, alih-alih menjadi penggerak ekonomi lokal, mereka justru memilih merantau. Kota-kota besar menawarkan apa yang tidak mereka temukan di daerah sendiri : pekerjaan, kepastian penghasilan, dan masa depan.
Ini bukan sekadar migrasi biasa. Ini adalah brain drain versi daerah.
Jika dibiarkan, Gunungkidul berisiko kehilangan aset terpentingnya : generasi muda produktif. Bonus demografi yang digadang-gadang pemerintah bisa berubah menjadi ilusi, karena tenaga kerja justru terserap di luar daerah.
Pertanyaannya : apa yang harus dilakukan?
Pertama, pemerintah daerah tidak bisa lagi bergantung pada sektor tradisional semata. Perlu ada langkah konkret membangun lapangan kerja berbasis potensi lokal melalui hilirisasi sumber daya alam. Pengolahan minyak kayu putih, jambu mete, industri bahan bangunan dari batu kapur, hingga pemanfaatan energi panas bumi bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak.
Kedua, revitalisasi sektor pertanian harus menjadi prioritas. Air yang sudah berhasil diangkat ke permukaan tidak boleh berhenti pada kebutuhan domestik. Teknologi pengeboran dan distribusi air harus diarahkan untuk mendukung irigasi lahan pertanian. Dengan pendekatan modern—tanaman hortikultura, sayuran, dan komoditas bernilai tinggi, pertanian bisa kembali menjadi sektor yang menjanjikan, bahkan bagi generasi muda.
Ketiga, sektor pariwisata perlu didorong naik kelas. Gunungkidul tidak kekurangan daya tarik alam, tetapi miskin dalam pengemasan. Pembangunan wisata budaya berbasis narasi lokal, seperti legenda terbentuknya Gunung Sewu, dapat menjadi identitas yang kuat. Di sisi lain, wisata buatan seperti sky lift atau wahana panorama pegunungan dapat menjadi magnet baru bagi wisatawan.
Keempat, penguatan UMKM harus menjadi strategi inti. Produk olahan khas daerah, kerajinan, hingga karya seni lokal perlu didorong menjadi bagian dari ekosistem ekonomi wisata. Tanpa ini, pariwisata hanya akan menjadi tontonan, bukan sumber kesejahteraan.
Kelima, pembenahan manajemen pariwisata berbasis teknologi tidak bisa ditawar. Paket wisata terintegrasi, sistem digitalisasi, hingga promosi berbasis data akan menentukan daya saing Gunungkidul di tengah persaingan destinasi lain.
Dan terakhir, aksesibilitas menjadi kunci. Transportasi yang nyaman dan terintegrasi akan menentukan apakah potensi besar ini bisa benar-benar diakses atau tetap menjadi cerita di atas kertas.
Pada akhirnya, persoalan Gunungkidul bukan semata soal alam yang keras. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengelola potensi yang sudah ada, sekaligus menahan laju keluarnya generasi produktif.
Jika tidak ada langkah berani dan terarah, maka yang tersisa hanyalah paradoks : daerah dengan sumber daya yang melimpah, tetapi kehilangan manusianya. Dan ketika itu terjadi, pembangunan bukan lagi soal kemajuan, melainkan sekadar bertahan dari ketertinggalan.
