Oleh : Ki Wakijan (Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul)
Di era nation state seperti sekarang, identitas kebangsaan sering kali menjadi batas paling tegas dalam melihat konflik global. Namun ada momen ketika sekat-sekat itu runtuh, dan kemanusiaan berbicara lebih lantang daripada identitas apa pun.
Palestina adalah salah satu cermin paling nyata dari fenomena tersebut. Bagi umat Islam, mencintai Al-Aqsha bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari iman. Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam dan tanah yang diberkahi. Allah SWT berfirman : “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra: 1). Ayat ini menegaskan bahwa Al-Aqsha bukan hanya situs sejarah, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam bagi umat Islam.
Namun menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak tragedi kemanusiaan di Gaza, dukungan terhadap Palestina tidak lagi hanya datang dari dunia Islam. Di jalan-jalan London, Paris, hingga Berlin, jutaan orang dari berbagai latar belakang turun ke jalan. Mereka bukan Muslim, tetapi mereka bersuara. Mereka bukan bagian dari konflik, tetapi mereka memilih berpihak pada kemanusiaan.
Apa yang terjadi di Gaza, terutama korban anak-anak dan warga sipil, telah menyentuh sisi paling dasar dari nurani manusia. Gambar-gambar kehancuran, tangisan anak-anak, dan kehilangan yang tak terbayangkan, menyebar luas melalui media sosial dan membentuk opini publik dunia. Di titik inilah, agama bukan lagi satu-satunya dasar solidaritas.
Baca Juga : Jejak Senja Para Panglima : Cahaya Pembebasan Masjid Al-Aqsa yang Tak Pernah Padam
Seorang non-Muslim di Eropa mungkin tidak memiliki keterikatan teologis dengan Al-Aqsha. Namun tetap bisa merasakan luka yang sama saat melihat seorang anak kehilangan orang tuanya, atau sebuah keluarga hancur oleh bom. Ini adalah bahasa universal : kemanusiaan.
Bahkan tokoh-tokoh dunia yang tidak memiliki latar belakang Islam pun menunjukkan simpati terhadap Palestina. Cristiano Ronaldo, misalnya, dikenal pernah menunjukkan kepedulian terhadap korban di Gaza melalui berbagai bentuk dukungan kemanusiaan. Demikian pula Pep Guardiola, pelatih Manchester City, yang secara terbuka menyuarakan keprihatinan dan solidaritas terhadap rakyat Palestina. Kehadiran figur-figur global ini memperkuat pesan bahwa isu Palestina telah melampaui batas agama dan masuk ke wilayah etika universal.
Islam mengajarkan bahwa nilai kemanusiaan bersifat universal. Allah SWT berfirman: “Barang siapa membunuh satu jiwa… seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32). Ayat ini menjadi fondasi bahwa setiap nyawa manusia memiliki nilai yang sangat tinggi, tanpa memandang agama, suku, atau bangsa.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya solidaritas kemanusiaan. Dalam sebuah hadits beliau bersabda : “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit…” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah bagian dari iman.
Namun lebih luas lagi, Rasulullah ﷺ juga menunjukkan akhlak universal dalam memperlakukan manusia. Bahkan terhadap non-Muslim sekalipun, beliau mencontohkan keadilan dan kasih sayang. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda : “Sayangilah yang di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangimu.” (HR. Tirmidzi). Pesan ini bersifat universal, tidak dibatasi hanya untuk sesama Muslim.
Ketika warga Eropa turun ke jalan membela Palestina, narasi lama tentang konflik berbasis agama mulai runtuh. Dukungan mereka lahir dari empati, bukan teologi. Dari rasa keadilan, bukan identitas. Ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Islam sejatinya sejalan dengan nilai kemanusiaan universal. Apa yang diajarkan Al-Qur’an dan hadits tentang keadilan, kasih sayang, dan pembelaan terhadap yang lemah, ternyata juga menjadi nilai yang diperjuangkan oleh banyak orang di luar Islam.
Fenomena ini seharusnya menjadi cermin. Jika non-Muslim bisa bersuara lantang atas dasar kemanusiaan, maka umat Islam semestinya lebih dari itu, tidak hanya emosional, tetapi juga strategis dan berkelanjutan dalam menunjukkan kepedulian. Mencintai Masjid Al-Aqsha bukan hanya soal simbol, tetapi juga tentang membela nilai keadilan yang diwakilinya. Solidaritas tidak cukup berhenti pada slogan. Tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata: bantuan kemanusiaan, edukasi publik, dan upaya membangun kesadaran global.
Palestina hari ini bukan hanya isu umat Islam. Tetapi ujian bagi kemanusiaan dunia. Al-Qur’an telah mengajarkan nilai-nilai keadilan. Rasulullah ﷺ telah mencontohkan kasih sayang universal. Dan hari ini, dunia, baik Muslim maupun non-Muslim, mulai bergerak dalam kesadaran yang sama. Bahwa pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya tanah atau politik, tetapi nilai dasar kemanusiaan itu sendiri.
Dan mungkin, di tengah reruntuhan Gaza, kita sedang menyaksikan satu hal yang langka: bahwa kemanusiaan, ketika benar-benar terbangun, mampu melampaui semua sekat yang selama ini memisahkan manusia.
