Di setiap senja sejarah Islam, selalu ada cahaya yang enggan padam. Cahaya itu bersumber dari iman, dari keyakinan bahwa janji Allah adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Demikian pula kisah tentang pembebasan Masjid Al-Aqsa, sebuah kisah yang bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga amanah bagi umat di masa kini.

Allah SWT telah menegaskan kemuliaan tanah ini dalam firman-Nya : “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya…”(QS. Al-Isra: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tanah yang diberkahi, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara spiritual. Masjid Al-Aqsa menjadi saksi peristiwa agung Isra Mi’raj, yang menghubungkan bumi dengan langit, serta menegaskan kedudukan Al-Aqsa dalam akidah umat Islam.

Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang keutamaan dan keterikatan umat dengan Al-Aqsa : “Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa Masjid Al-Aqsa bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan salah satu pusat spiritual umat Islam yang harus dijaga kehormatannya.

Baca Juga : Syawal, Momentum Meneguhkan Taqwa dan Membangun Peradaban

Salah satu kisah paling menggetarkan adalah saat Umar bin Khattab memasuki Yerusalem. Ia datang bukan sebagai penakluk yang angkuh, melainkan sebagai hamba Allah yang penuh kerendahan hati. Diriwayatkan, beliau memasuki kota dengan pakaian sederhana, bahkan bergantian menaiki unta dengan pelayannya, sebuah pemandangan yang mengguncang persepsi kekuasaan saat itu.

Ketika tiba di lokasi Masjid Al-Aqsa, beliau mendapati tempat itu dalam keadaan kotor dan terabaikan. Tanpa ragu, beliau sendiri yang turun tangan membersihkannya. Seorang khalifah, pemimpin besar dunia Islam saat itu, memungut kotoran dengan tangannya sendiri. Inilah makna kepemimpinan dalam Islam : melayani, bukan dilayani.

Berabad abad kemudian, sejarah telah mencatat bagaimana pembebasan Al-Aqsa menjadi bukti nyata dari pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang beriman. Sosok Salahuddin Al-Ayyubi bukan hanya dikenal karena strategi militernya, tetapi karena keteguhan iman dan akhlaknya. Ia memahami bahwa kemenangan bukan semata hasil kekuatan senjata, melainkan buah dari ketaatan dan kesabaran.

Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7). Ayat ini menjadi prinsip dasar perjuangan : bahwa pertolongan Allah akan datang kepada mereka yang menjaga komitmen terhadap agama-Nya. Inilah yang menjadi ruh perjuangan para panglima Islam, bahwa kemenangan dimulai dari perbaikan diri, dari hati yang bersih, dan dari niat yang lurus.

Namun, pembebasan Al-Aqsa bukan hanya kisah masa lalu. Rasulullah ﷺ juga memberi isyarat bahwa perjuangan ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman : “Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tetap tegak di atas kebenaran… mereka tidak akan membahayakan oleh orang-orang yang menelantarkan mereka, hingga datang ketetapan Allah, dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim).

Hadits ini memberikan harapan bahwa akan selalu ada penjaga-penjaga kebenaran, termasuk mereka yang menjaga kehormatan Masjid Al-Aqsa, di tengah berbagai ujian dan tantangan zaman.

Dalam konteks hari ini, pembebasan Al-Aqsa tidak lagi dimaknai semata sebagai peperangan fisik, tetapi juga sebagai perjuangan spiritual, intelektual, kemanusiaan serta hadir dalam doa-doa yang dipanjatkan, dalam kepedulian yang ditumbuhkan, serta dalam persatuan umat yang diperjuangkan.

Para “panglima petang” masa kini bukan hanya mereka yang berada di medan tempur, tetapi juga mereka yang menjaga iman di tengah gelapnya zaman dan setiap hati yang masih peduli. Allah SWT kembali mengingatkan : “Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).

Ayat ini menjadi penguat bahwa harapan tidak boleh padam. Bahwa senja bukanlah akhir, melainkan awal dari terbitnya fajar baru.

Selama Masjid Al-Aqsa masih hidup dalam doa-doa umat, selama itu pula cahaya pembebasan akan terus menyala, menunggu lahirnya generasi yang siap menjadi panglima di zamannya, membawa kembali kemuliaan dengan iman, ilmu, dan keteguhan.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *