Oleh : DR. PURWANTO, MM (Mantan Assesor SDM Aparatur Jenjang Utama Badan Kepegawaian Negara RI)
Gunungkidul – Kajian menarik muncul ketika membandingkan wilayah Wonosari dengan Wonogiri. Kedua daerah ini secara geografis memiliki kemiripan: sama-sama didominasi kawasan berbatu, relatif tandus, serta masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pertanian tadah hujan. Pola tanam tumpangsari—padi, jagung, kedelai dalam satu lahan—menjadi ciri khas bertani di kedua wilayah tersebut.
Kondisi alam yang terbatas mendorong masyarakat di kedua daerah mengambil langkah serupa untuk meningkatkan kesejahteraan, yakni merantau atau yang dikenal dengan istilah “boro”. Tujuan utama perantauan umumnya adalah kawasan Jabodetabek, yang menawarkan peluang kerja lebih luas sebagai pusat ekonomi nasional. Pilihan ini menjadi jalan rasional bagi masyarakat untuk memperbaiki taraf hidup. Namun demikian, terdapat perbedaan mencolok dari sisi sosial dan budaya yang memengaruhi pola pilihan pekerjaan para perantau.
Masyarakat Wonosari yang berada dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki latar belakang budaya yang kuat dipengaruhi tradisi keraton. Nilai-nilai tersebut membentuk pola pikir yang cenderung mengutamakan stabilitas dan status sosial. Akibatnya, banyak perantau dari Wonosari lebih memilih bekerja di sektor formal, baik sebagai pegawai swasta maupun aparatur pemerintah, dengan orientasi pada kepastian penghasilan dan status yang dianggap lebih mapan.
Baca Juga : Kebijakan Penguatan Keuangan Puskesmas BLUD di Kabupaten Gunungkidul
Sebaliknya, masyarakat Wonogiri menunjukkan karakter yang lebih adaptif terhadap sektor informal. Para perantau dari Wonogiri banyak yang menekuni usaha mandiri seperti berdagang, membuka usaha kuliner—terutama bakso yang identik dengan Wonogiri—hingga berbagai bentuk kewirausahaan lainnya. Lingkungan usaha yang kompetitif ini mendorong tumbuhnya jiwa mandiri dan semangat berwirausaha yang kuat.
Perbedaan pilihan sektor ini berdampak langsung pada perilaku ekonomi dan budaya masyarakat. Sektor informal yang digeluti perantau Wonogiri cenderung menghasilkan potensi ekonomi yang lebih dinamis, karena berbasis pada pengembangan usaha dan ekspansi pasar.
Dampak paling nyata terlihat saat momentum Lebaran, ketika para perantau pulang kampung dan membawa aliran dana ke daerah asal.
Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk Gunungkidul sekitar 770 ribu jiwa, dengan sekitar 300 ribu di antaranya merantau. Sementara itu, Wonogiri memiliki populasi sekitar 1,2 juta jiwa dengan jumlah perantau mencapai kurang lebih 500 ribu orang.
Perbedaan jumlah perantau ini berimplikasi signifikan terhadap perputaran ekonomi. Di Wonosari, peredaran uang selama satu minggu Lebaran diperkirakan mencapai sekitar Rp400 miliar. Sedangkan di Wonogiri, pada tahun 2026, perputaran uang dalam periode yang sama diprediksi berkisar antara Rp1,2 triliun hingga Rp2,5 triliun.
Besarnya perputaran ekonomi di Wonogiri tidak hanya ditopang oleh jumlah perantau yang lebih banyak, tetapi juga oleh karakter usaha yang mereka jalankan. Para pelaku usaha cenderung memiliki akumulasi modal dan keuntungan yang lebih besar, sehingga kontribusi ekonomi saat pulang kampung menjadi lebih signifikan.
Sebaliknya, perantau dari Wonosari yang mayoritas bekerja di sektor formal memiliki pola pendapatan yang relatif tetap, sehingga kontribusi terhadap perputaran ekonomi daerah juga lebih terbatas.
Dari kajian empiris ini, dapat disimpulkan bahwa pilihan sektor pekerjaan dan karakter sosial budaya masyarakat sangat memengaruhi kekuatan ekonomi daerah, terutama dalam momentum musiman seperti Lebaran.
Ke depan, baik Wonosari maupun Wonogiri memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi perantau (kaum boro) sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Dengan strategi yang tepat, kontribusi para perantau tidak hanya bersifat konsumtif saat Lebaran, tetapi juga dapat diarahkan menjadi investasi produktif bagi pembangunan daerah.
