Dalam Kisah-kisah Manusia Suci, Perang Khaibar tidak diceritakan semata sebagai catatan peperangan, tetapi sebagai cermin batin manusia—tentang iman, keikhlasan, dan cara Allah menurunkan pertolongan-Nya pada saat yang paling menentukan.
Khaibar adalah wilayah benteng-benteng kokoh milik kaum Yahudi yang selama ini menjadi pusat kekuatan politik dan militer di utara Madinah. Benteng-benteng itu berdiri megah, sulit ditembus, dan menimbulkan rasa gentar bahkan sebelum pedang terhunus. Secara kasat mata, Khaibar adalah simbol kekuatan duniawi yang nyaris tak tergoyahkan.
Pasukan kaum Muslimin mengepung Khaibar dalam situasi yang tidak mudah. Beberapa sahabat telah silih berganti memimpin penyerangan, namun benteng-benteng itu tetap berdiri. Kemenangan belum juga datang. Di titik inilah Rasulullah ﷺ menyampaikan sabda yang kelak dikenang sepanjang sejarah:
“Besok aku akan menyerahkan panji kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya. Melalui tangannya, Allah akan memberikan kemenangan.”
Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Thalib. Saat itu, Ali sedang menderita sakit mata hingga hampir tak dapat melihat. Rasulullah ﷺ menyentuh dan mendoakan matanya—dan seketika itu pula Ali sembuh. Namun, sebagaimana ditekankan dalam kisah-kisah manusia suci, kesembuhan itu bukanlah inti cerita. Intinya adalah siapa Ali di hadapan Allah.
Ali maju bukan sebagai pahlawan yang haus kemenangan, tetapi sebagai hamba yang sepenuhnya berserah. Dalam riwayat yang ditekankan Sayyid Mahdi Ayatullah, keberanian Ali bukanlah keberanian fisik semata, melainkan keberanian ruhani—keteguhan hati yang tidak gentar karena ia tidak bertumpu pada dirinya sendiri, melainkan pada Allah.
Ketika pintu benteng Khaibar akhirnya roboh di tangannya, sejarah mencatatnya sebagai kemenangan militer. Namun para arif melihatnya sebagai kemenangan iman atas kesombongan, ketulusan atas ambisi, dan tawakal atas rasa takut. Bahkan disebutkan bahwa Ali mengangkat pintu benteng itu sendirian—sebuah gambaran simbolik tentang kekuatan yang lahir ketika ego telah ditanggalkan.
Dalam narasi Kisah-kisah Manusia Suci, Perang Khaibar mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering kali datang setelah manusia mencapai batas ketidakberdayaannya. Selama masih mengandalkan kekuatan diri, kemenangan terasa jauh. Tetapi ketika hati benar-benar berserah, jalan yang mustahil pun terbuka.
Khaibar bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah cermin bagi setiap manusia beriman hari ini. Betapa sering kita menghadapi “benteng-benteng Khaibar” dalam hidup: masalah yang terasa terlalu besar, jalan yang tampak buntu, dan ketakutan yang mengurung hati. Kisah ini mengingatkan bahwa kemenangan sejati tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya kekuatan, melainkan oleh seberapa tulus kita berdiri di hadapan Allah.
Dan sebagaimana Ali bin Abi Thalib, kemenangan itu akan datang—bukan saat kita merasa paling kuat, tetapi justru ketika kita telah sepenuhnya berserah.
Pada akhirnya, Perang Khaibar bukanlah kisah tentang runtuhnya benteng batu, melainkan runtuhnya kesombongan manusia di hadapan kehendak Allah. Apa yang terjadi melalui tangan Ali bin Abi Thalib menegaskan satu prinsip abadi : kemenangan tidak pernah lahir dari kekuatan fisik semata, tetapi dari hati yang lurus dan penuh tawakal.
Al-Qur’an telah mengingatkan jauh sebelum Khaibar terjadi:
“Berapa banyak terjadi golongan yang kecil dapat mengalahkan golongan yang besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)
Ayat ini seolah menjadi tafsir ilahi atas peristiwa Khaibar. Kaum Muslimin tidak unggul dalam jumlah, tidak pula dalam persenjataan. Namun mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh benteng mana pun: kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah datang tepat pada waktunya.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan makna kemenangan sejati dalam sebuah hadis:
“Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Sahih Muslim)
Inilah ruh yang menggerakkan Ali di Khaibar. Ia maju bukan untuk kemasyhuran, bukan untuk disebut pahlawan, melainkan karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan justru karena itulah, Allah menurunkan kemenangan melalui tangannya.
Dalam Kisah-kisah Manusia Suci, Khaibar diletakkan sebagai pelajaran lintas zaman: bahwa setiap manusia pasti memiliki “benteng Khaibar” dalam hidupnya—masalah yang terasa terlalu kuat, jalan yang tampak tertutup, dan ketakutan yang seakan mustahil ditembus. Namun sejarah mengajarkan, ketika manusia telah berserah sepenuhnya, Allah sendiri yang membuka pintu-pintu itu.
Khaibar pun menjadi pesan sunyi bagi siapa pun yang beriman:
jangan ukur kemenangan dari kekuatanmu, tetapi dari kedekatanmu kepada Allah.
Sebab ketika hati telah berserah, bahkan pintu benteng paling kokoh pun dapat runtuh—dengan izin-Nya. (red)