Ramadan selalu datang sebagai tamu istimewa. Ia tidak hanya membawa kewajiban berpuasa, tetapi juga mengajak setiap Muslim untuk berhenti sejenak, menata ulang niat, dan membersihkan hati. Di bulan inilah Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya, seolah memberi kesempatan baru bagi hamba-Nya yang ingin kembali pulang.

Menjelang Ramadan, manusia kerap sibuk mempersiapkan hal-hal lahiriah : jadwal puasa, menu sahur, hingga agenda buka bersama. Namun para ulama sejak dulu mengingatkan bahwa persiapan terpenting adalah persiapan batin. Sebab, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan panjang mengendalikan hawa nafsu.

Dikisahkan, para sahabat Nabi SAW menyambut Ramadan dengan kesungguhan luar biasa. Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata, “Janganlah kalian sibuk dengan sedikitnya amal, tetapi sibuklah dengan apakah amal itu diterima atau tidak.” Kalimat ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah jauh lebih utama daripada kuantitasnya. Ramadan bukan soal banyaknya ibadah lahiriah, tetapi tentang hati yang jujur dan tunduk.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa puasa tanpa penjagaan lisan dan akhlak hanya akan menyisakan lapar dan dahaga.

Para salafus shalih bahkan mempersiapkan Ramadan jauh hari sebelumnya. Diriwayatkan bahwa mereka berdoa enam bulan sebelum Ramadan agar dipertemukan dengan bulan suci, dan enam bulan setelahnya agar amal mereka diterima. Imam Yahya bin Abi Katsir berkata, “Doa mereka adalah: Ya Allah, selamatkan kami hingga Ramadan dan terimalah Ramadan dari kami.”

Ramadan juga merupakan waktu terbaik untuk berdamai dengan sesama. Membersihkan hati dari dendam, iri, dan kebencian adalah puasa yang paling berat, namun paling bernilai. Hasan Al-Bashri, seorang tabi’in besar, pernah berkata, “Puasa bukan hanya menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga menahan diri dari dusta, kebatilan, dan perbuatan sia-sia.”

Allah SWT menegaskan tujuan puasa dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa inilah puncak dari seluruh ibadah Ramadan—kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi, baik saat sendiri maupun di hadapan manusia.

Menjelang Ramadan, pertanyaan penting yang patut kita renungkan adalah: apakah puasa tahun ini akan menjadi rutinitas tahunan, atau benar-benar menjadi madrasah perubahan? Apakah Ramadan hanya berlalu sebagai kalender ibadah, atau meninggalkan bekas dalam akhlak dan perilaku kita setelahnya?

Ramadan selalu datang dengan lembut, namun ia juga membawa pesan yang sunyi : waktu kita tidak pernah dijanjikan panjang. Betapa banyak orang yang menyambut Ramadan tahun lalu, tetapi kini hanya tinggal nama dalam doa. Mereka pernah berniat berubah, pernah berjanji memperbaiki diri, namun ajal datang lebih cepat daripada rencana.

Hasan Al-Bashri pernah menasihati, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu ikut pergi.” Kalimat ini mengingatkan bahwa setiap Ramadan yang datang sejatinya adalah pengurangan umur, sekaligus kesempatan terakhir yang mungkin tidak terulang.

Maka jangan sambut Ramadan dengan sikap biasa-biasa saja. Bisa jadi inilah Ramadan terakhir yang Allah izinkan kita jalani. Bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir untuk sujud lebih lama, untuk menangis dalam doa, dan untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang selama ini kita tunda penyesalannya. Ramadan tidak menuntut kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta kesungguhan untuk berubah, meski perlahan. Maka sambutlah Ramadan dengan hati yang dibersihkan, niat yang diluruskan, dan tekad untuk memperbaiki diri. Sebab, para ulama selalu mengingatkan : tidak ada jaminan kita masih akan bertemu Ramadan berikutnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *