Oleh : Ki Drs Wakijan, MM ( Ketua Yayasan Perguruan Taman Siswa Cabang Gunungkidul)
Memasuki bulan Syawal, umat Islam baru saja menyelesaikan “madrasah Ramadan” selama satu bulan penuh. Berbagai ibadah telah ditunaikan, mulai dari puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga zakat fitrah dan sedekah. Semua itu diakhiri dengan pelaksanaan Idul Fitri, dengan harapan besar agar seluruh amal ibadah diterima oleh Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an, tepatnya pada QS. Al-Baqarah ayat 183, ditegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Taqwa bukan sekadar label spiritual, melainkan karakter yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Hal ini dipertegas dalam QS. Ali Imran ayat 134–135 yang menjelaskan ciri-ciri orang bertakwa.
Setidaknya terdapat lima karakter utama insan bertakwa. Pertama, gemar berinfak dan bersedekah dalam kondisi lapang maupun sempit. Kedua, mampu menahan amarah dan memberi maaf kepada sesama. Ketiga, aktif berbuat kebaikan dan mendorong amar makruf nahi mungkar. Keempat, segera bertaubat ketika berbuat dosa. Dan kelima, tidak mengulangi kesalahan setelah bertaubat.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti saat Ramadan usai. Justru, pasca-Ramadan menjadi ujian sejati apakah ibadah yang dijalankan mampu membentuk pribadi yang konsisten dalam kebaikan.
Lebih jauh, pribadi bertakwa tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya masyarakat berperadaban tinggi. Konsep ini dikenal dalam Islam sebagai “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”—sebuah gambaran negeri yang baik, makmur, dan mendapat ampunan Tuhan.
Peradaban unggul lahir dari perpaduan antara kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat yang produktif, disiplin, berorientasi pada kemajuan, serta menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan akhlak mulia adalah kunci utama. Semua itu harus dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan.
Namun, realitas menunjukkan adanya kesenjangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk Indonesia mencapai 281,6 juta jiwa, dengan sekitar 87,5 persen atau 246,4 juta di antaranya beragama Islam. Sementara itu, survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) pada Oktober 2024 mencatat sekitar 62,9 persen umat Muslim menjalankan puasa Ramadan secara rutin, atau setara dengan sekitar 155 juta orang.
Angka tersebut seharusnya menjadi potensi besar lahirnya jutaan pribadi bertakwa setiap tahun. Namun, pertanyaan reflektif pun muncul: mengapa peradaban unggul dan moralitas tinggi belum sepenuhnya terwujud? Mengapa berbagai persoalan sosial, ekonomi, hingga korupsi masih marak terjadi di tengah tingginya aktivitas keagamaan?
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada kesalehan individual yang berfokus pada ibadah ritual. Diperlukan keseimbangan dengan kesalehan sosial, intelektual, struktural, dan kultural. Artinya, nilai-nilai ibadah harus terimplementasi dalam etos kerja, kejujuran, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
Guru Besar UIN Yogyakarta, Prof. H. Ahmad Muttaqin, MA, Ph.D., dalam tulisannya “Puasa, Pribadi Taqwa dan Peradaban Utama” mengingatkan pentingnya refleksi mendalam. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis: apa makna rajin beribadah jika masih malas belajar? Apa arti puasa jika lisan masih menyakiti orang lain? Apa makna zakat jika perilaku sehari-hari masih jauh dari nilai kebaikan?
Pertanyaan tersebut bukan untuk melemahkan semangat ibadah, melainkan untuk menguatkan integrasi antara iman dan amal. Bahwa spiritualitas harus berjalan seiring dengan moralitas, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial.
Syawal pun menjadi momentum penting untuk melanjutkan transformasi diri. Tidak hanya menjaga kesalehan pribadi, tetapi juga membangun kesalehan sosial dan peradaban. Dengan demikian, Ramadan tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan titik awal lahirnya manusia-manusia bertakwa yang mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
Jika nilai-nilai itu benar-benar dihidupkan, maka harapan terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia, maju, dan sejahtera bukanlah hal yang mustahil. (red)
